Senin, 27 Februari 2012

Sistem Pemasaran Cabai Merah di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA)

I. PENDAHULUAN

Seiring dengan berkembangnya industri pangan nasional, cabai merupakan salah satu bahan baku yang dibutuhkan secara berkesinambungan. Karena merupakan bahan pangan yang dikonsumsi setiap saat, maka cabai akan terus dibutuhkan dengan jumlah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional.

Meskipun cabai merah bukan bahan pangan utama bagi masyarakat kita, namun komoditi ini tidak dapat ditinggalkan, harus tersedia setiap hari dan harus dalam bentuk segar. Ketersediannya secara teratur setiap hari bagi ibu rumah tangga menjadi suatu keharusan. Meningkatnya harga cabai merah atau kelangkaan pasokan di pasaran mendapat reaksi sangat cepat dari masyarakat dan insan pers. Oleh sebab itu penyediaan cabai merah dalam bentuk segar setiap hari sepanjang tahun perlu dirancang secara baik.

Jumlah permintaan cabai relatif tetap sepanjang waktu, sedangkan produksi berkaitan dengan musim tanam. Maka dari itu pasar akan kekurangan pasokan kalau masa panen raya belum tiba. Dalam kesempatan seperti ini beruntung bagi petani yang dapat memproduksi cabai sepanjang tahun. Mengingat permintaan cabai merah relatif stabil sepanjang tahun, maka management produksi perlu diatur, agar tidak terjadi fluktuasi baik produksi maupun harga. Pola produksi cabai merah selama ini sangat tidak beraturan sehingga yang semestinya usahatani ini sangat menguntungkan, seringkali mendatangkan kerugian bagi petani maupun konsumen.

Selain management produksi, pemasaran merupakan salah satu subsistem penting dari system agribisnis. Kegiatan pemasaran merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terjadi dalam proses mengalirkan barang dan jasa dari sentra produksi ke sentra konsumsi guna memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan bagi konsumen serta memberikan keuntungan bagi produsen. Konsep ini menunjukkan bahwa peranan pemasaran sangat penting dalam rangka meningkatkan nilai guna bentuk, nilai guna waktu, nilai guna tempat dan nilai guna hak milik dari suatu barang dan jasa secara umum dan juga pada komoditas pertanian (Limbong dan Sitorus, 1995).

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) Lembang, Bandung, Jawa Barat merupakan wilayah kerja dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura di Indonesia yang mengkhususkan diri di bidang sayuran. Balitsa mengelola lahan percobaan yang digunakan untuk kegiatan penelitian dan kegiatan yang terkait lainnya. Selain untuk kegiatan penelitian sebagian dari lahan Balitsa disewakan kepada karyawan untuk melakukan usahatani sayuran. Salah satu komoditas yang diusahatanikan karyawan adalah cabai merah karena memiliki prospek yang cukup baik.


II. ISI

Pemasaran merupakan salah satu subsistem penting dari sistem agribisnis. Kegiatan pemasaran merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terjadi dalam proses mengalirkan barang dan jasa dari sentra produksi ke sentra komsumsi guna memenihi kebutuhan dan memberikan kepuasan bagi konsumen serta memberikan keuntungan bagi produsen. Oleh karena itu dapt dikatakan bahwa peranan pemasaran sangat penting dalam rangka meningkatkan nilai guna bentuk, nilai guna waktu, nilai guna temapt dan nilai guna hak milik dari suatu barang dan jasa secara umum dan juga pada komoditas pertanian (Limbong dan Sitorus, 1995)

Seperti halnya komoditas hortikultura pada umumnya, peranan pemasaran pada komoditas cabai memberikan kontribusi penting mengingat sifat khusus dari hortikultura pada umunya seperti mudah busuk, mudah rusak, volumenious, produksinya bersifat musiman sementara konsumsinya sepanjang tahun. Sifat-sifat khusus tersebut menuntut adanya suatu perlakuan khusus berupa pengangkutan yang hati-hati, pengepakan yang baku dan baik, penyimpanan dengan suhu tertentu , dan berbagai cara pengawetan lain sehingga cabai merah dapat bertahan dalam waktu yang lama. Sementara itu konsumen menghendaki komoditas tersedia dekat dengan tempat mereka, dapat diperoleh sepanjang waktu dan dapat dikonsumsi dalam bentuk segar. Masing-masing keinginan produsen dan konsumen tersebut dapat dipenuhi dengan adanya suatu sistem pemasaran yang baik.

Dalam alur pemasaran tersebut melibatkan berbagai lembaga pemasaran menghubungkan para petani di sentra produksi dan sentra konsumsi untuk memberikan nilai guna bagi produk dalam suatu sistem pemasaran yang berperan dalam memasarkan komoditas pertanian hortikultura yang dapat mencakup petani, pedagang pengumpul, pedagang perantara/grosir dan pedagang pengecer. Kelembagaan pemasaran lainnya yang berperan dalam pemasaran komoditas hortikultura adalah berupa pasaar tradisional, pasar modern dan pasar industri (PSP IPB dan Bapebti, 1995).

Posisi tawar menawar petani sayuran dalam pembentukan harga lebih rendah dibandingkan petani komoditi pangan lainnya. Gejala demikian dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: (1) Komoditi sayuran secara umum relatif cepat mengalami pembusukan dibandingkan komoditi pangan lain. Konsekuensinya adalah petani sayuran tidak dapat menahan atau menyimpan sayurannya dalam jangka waktu yang cukup lama untuk menunggu harga jual yang lebih tinggi karena hal itu dapat menyebabkan penurunan harga jual akibat penurunan kualitas produk; (2) Kebutuhan modal tunai pada usahatani sayuran relatif tinggi sementara lembaga perkreditan formal sangat jarang yang menyalurkan kreditnya kepada petani sayuran. Kondisi demikian menyebabkan petani harus segera menjual produksinya setelah panen akibat desakan kebutuhan modal untuk musim tanam berikutnya; (3) Jika tersedia peralatan penyimpanan dan efektif dalam memperlambat proses pembusukan maka petani sebenarnya dapat menyimpan produksinya lebih lama untuk menunggu harga jual lebih tinggi. Namun peralatan tersebut belum banyak tersedia karena pembangunan komoditi hortikultura selama ini lebih ditekankan pada aspek produksi (Hastuti. 2005).


UNTUK LEBIH LENGKAPNYA DOWNLOAD MAKALAH INI

1 komentar: